Friday, February 09, 2007

Sekatil?

Ini ada satu cerita entah dongeng atau benar aku pun tak pasti.Katakanlah ada seorang gadis namanya Wati, 27 tahun bekerja pada suatu perusahaan konsultan yang tidak terlalu besar sebagai pembantu dari salah seorang partner pada perusahaan konsultan tersebut, kita sebut saja namanya Andy.

Wati sangat mengkagumi profil dan karakter Andy. Sebut saja semua hal yang baik, maka Andy memilikinya. Otak yang cemerlang, sikap yang profesional dan gentleman, penampilan yang selalu rapi dan nice looking serta usia baru 36 tahun (waktu itu).

Singkat cerita Wati mulai "menaksir" Andy. Ternyata Wati membiarkan perasaannya kepada Andy tumbuh tanpa halangan. Semakin hari ia semakin jatuh hati kepada Andy. Andy bukannya tidak tahu akan hal itu tetapi sikapnya yang profesional di pejabat yang tidak membiarkan hal-hal peribadi mencampuri urusan pejabat membuat Wati semakin mengkagumi peribadi Andy.

Suatu hari urusan pejabat membuat mereka berdua harus pergi ke beberapa kota di Jawa Tengah. Ini ceritanya. Untuk memudahkan perjalanan, mereka naik pesawat ke Semarang dan menyewa kereta untuk melakukan perjalanan darat di sekitar Semarang , Magelang, Yogya dan Solo dalam rangka melakukan suatu survey khusus untuk kepentingan klien.

Entah bagaimana ceritanya sudah terlalu lewat untuk mereka pulang, dan mereka terpaksa menginap di sebuah hotel kecil. Sebenarnya Andy ingin memesan 2 bilik tetapi kerana hanya ada 1 bilik ia meminta pendapat Wati. Kerana memang sudah sangat penat dan letih Wati setuju untuk sebilik dengan Andy (sebenarnya Wati agak "sedikit senang" dengan keadaan darurat tersebut).

Kerana tidak beraircond, maka Andy membuka jendela bilik. Masalah lainnya bilik tersebut hanya memiliki 1 katil berukuran biasa dan tidak memiliki kerusi panjang. Tidak mungkin bagi Wati untuk meminta Andy tidur di lantai. Jadilah akhirnya mereka tidur sekatil setelah Andy berjanji bahawa ia tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak.

Sebenarnya Wati tidak boleh tidur sangat kerana sekatil dengan Andy. Sebagai seorang wanita jantungnya berdebar sangat kencang kerana tidur sekatil dengan lelaki sopan yang sangat dikaguminya.
Kaki mereka beberapa kali saling bersentuhan kerana katilnya memang muat-muat saja.

Setelah setengah jam, angin malam yang masuk melalui jendela membuat Wati merasa kedinginan sehingga ia memberanikan diri bertanya kepada Andy: "Mas Andy, aku kedinginan nih. Boleh tak minta tolong jendelanya ditutup saja?"

Andy tidak langsung menjawab dan Wati berpikir Andy sudah tertidur sehingga ia berkata lagi: "Mas Andy..."

Kali ini Andy langsung menjawab: "Wati, kamu kedinginan ya? MAUKAH KAMU MALAM INI KAMU BERTINDAK SEPERTI ISTERI SAYA?"

Jantung Wati serasa berhenti berdetak. Pikirannya langsung goncang mendengar pertanyaan Andy.

Dengan hati-hati ia bertanya: "Maksud mas Andy?"

"Maksud saya...., jendelanya kamu tutup sendiri ya ?!"



HEE..HEE..HEE. .. SERIUS SANGAT BACA NAMPAK !

Thursday, February 08, 2007

Rich Dad Poor Dad

Aku dah baca abis buku Rich Dad Poor Dad yang aku pinjam dari member aku tuh. Memang bagus kandungannya tapi masih tak menjawab beberapa soalan aku dan tak bape praktikal dalam beberapa segi. Memang le buku tu mengubah pandangan kita tentang kewangan dan pengurusannya, mengajak jadik kaya secara tak langsungnya. Kalu memang ada duit bleh le ikut cara dalam buku tu, buat investment. Tapi ada kelemahan kat situ. Bukan semua orang ada duit, dan sebenarnya lebih ramai orang berhutang tapi memang sure semua orang memang nak jadi kaya.

Buku tu ajak urus kewangan dengan baik dan camne nak jadik kaya. dia ajak orang buat investment untuk buat lebih banyak duit. Tapi kalu orang sedang berhutang camne nak ada duit nak wat investment? duit pun tak bape nak ada bayar hutang, loan umah pun gantung dua bulan, camne? baru nak kumpul duit bayar loan bulan pertama yang dah gantung, kena bayar late payment charge lagi pastu dah masuk bulan kedua punya payment lak. nak kena selesaikan hutang dulu baru urus kewangan dengan baik dan lepas tu baru buat investment. tapi kalu tak de duit atau tak cukup duit nak bayar hutang camne? mana nak datang duit nak buat investment?

Aku rasa buku yang lebih penting skang ialah bagaimana nak setel hutang, lagi best kalau buku tu citer pasal camne nak setel hutang dgn cepat. Buku nie mesti sold-out jadik best seller punye. Tapi sure buku nie akan dibenci oleh orang bank, yg bagi kad kredit, loan keta, along, ceti, dan yang sewaktu dengannya.
Buku mcm nie patut ada pastu tak de le orang berhutang sampai tak leh bayar. Kemudian baru bleh citer pasal tok sah berhutang, ajar cara urus kewangan dengan baik dan ajar cara nak jadik kaya. Baru le kena gaya dan stepnya.

Sume yang di atas nie hanya pendapat aku je (walaupun aku rasa ramai yang akan menyetujuinya, he he). Apa pun ada gak yang baik dalam buku tu. Cuma konteks tak sama, dia citer kt US kita kat Malaysia. Ada benda yang kita bleh buat dan ada benda kita tak leh buat. Takkan duit interest yang tak halal pun kita orang Islam nak terima? Dari segi undang-undang lak tak sama gak kan?

Dilema

aku tulis komen nie dalam BM supaya senang orang faham. ada member-member aku baca blog nie. dia kata bahasa omputeh dia tak tinggi sangat jadik kureng le skit dia membacanya. mcm bahasa aku tinggi sangat wak jan? blog member aku nie dalam BM dan bahasa dia plak lagi "atas" skit dari lenggok bahasa yang aku sedang guna nie.

Sebenarnya aku terperangkap. Aku dalam dilema. cewah. Aku stat tulis blog aku dalam BI, tengah-tengah jalan nak tukar BM lak. macam tak bape sesuai, tapi aku akan cuba. satu hal lagi ialah kalu aku tulis dalam BM ayat aku mesti memenuhi tuntutan tatabahasa yang baik. tapi nanti tak dapat nak selamba macam blog member aku tuh dan nanti macam skema je. susah gak tuh. kalu nak selamba badak takut merosakkan bahasa. Bahasa menunjukkan bangsa tau. huh dilema dilema.

My mom

Who is she?
She was born in Jelutong, Pulau Pinang. Her childhood was not complete, as far as I can think of. I couldn't recall the time that she took to explain about her school days though she is as smart as anyone I have ever met. She had an averagely good life in Perak Road. In this area, if I recalled correctly, the house was nearby an old cinema and by the side was a small rubber plantation. The area was like trapped between a small town and a village. She was the only child in the family with no more than a few cousins. Finished her highschool, started to work in a government office and met my father, also an officer of the government. The rest was history.

My mother is stern: if I don't do my work then beware of the consequences. Confronting my father is the last thing I would want to do.

My mother is a merchant: clothes, jewelleries and stuff, are all conjured to become money. What ever means to churn money is tried for the sake of the family besides holding on to her job.

My mother is pragmatic: rather than hanging around with gossip mongers and gossip around, she would rather take care of the children and prepare food for tea time after a day at the office.

My mother is a caring person: every morning, she wakes me up: “Pray …”. I had better get up if I don't want to hear her lecture on how satan will piss on me if I continue to lie asleep. She still wake me up on my visit with my family. This ritual is difficult to forget, at least on her side. Or maybe she still regard me as her little boy.

My mother’s speech is magic: I am the youngest but far away from being spoilt. Though I have always try to explain myself with reasons and supporting facts, I still listen to her. During my study days I always come home during the weekend, a ritual that I still do now even though I am all grown up. My friends used to treat me in those days. They opted for work and I chose to further my education, that explains why they are giving the treat. My outing is abrupted when my mother asked do I have to go? The rest I think you know. What verses does she have? I don’t know.

My mother likes to explain: logic, consequences, cause and effect, negation, thesis, antithesis, combination, statistics and everything are few of her methods. One that she likes to do is to relate everything back to religion. I know for a fact that is the right thing to do.

My mother is quite active, still: she does not know to sit and relax. There are always things to do around the house, chores to finish. She always ask on what dish to prepare when I come and visit her. That is a part of her enjoyment when other people appreciate what she cooked.

People say that we do not know the true value of something until we lose it. That is why whenever possible I would remind her how much I love her and I just can't thank her enough for being my mother. Mak, you are the best.


Happy Birthday, Mak ... (11 Jun 1935 - present)

Wednesday, February 07, 2007

Financial Literacy 101 - Lesson 2

In order to become successful there you need to master three main management skills:
You need to manage your cash flow
You need to manage yourself and time with you family
You need to manage other people

The main reasons why financial literate people still do not develop abundance of asset because:
Fear of losing money
Doubts and cycnism
Plain laziness
Habits
Arrogance

Steps to take to develop further in life financially:
- I need a reason greater than reality
- I choose daily
- Choose friends carefully
- Master a formula and learn a new one
- Pay yourself first
- Pay your brokers well
- Be an "Indian" giver
- Assets buy luxuries
- The need for heroes
- Teach and you shall receive

These are among the points noted from the book Rich Dad Poor Dad by Rober T. Kiyosaki and if any of you out there interested to know more, get a copy of the book and you will surely know what I mean.


Have fun!